User Name Password Register Forgot Password.!?

menu
Get the Flash Player to see this rotator.

Home | Berita Terkini | Bangil Kota Santri Ahlussunnah Wal'jama'ah

Sabtu, 17 Desember 2011 16:33:54 - kirim | cetak
Bangil Kota Santri Ahlussunnah Wal'jama'ah

BANGIL KOTA SANTRI AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH

 

Ada beberapa pemahaman yang sangat popular di tengah-tengah masyarakat, tentang istilah nama kota Bangil menurut pendapat dari kalangan umum santri mengatakan nama Bangil berasal dari istilah mbah ngelmu, sedangkan menurut pendapat masyarakat secara umum mengatakan bahwa bangil diistilahkan sebagai mbah mbahe angel artinya watak dan karakteristik masyarakat bangil sangat sulit untuk dirubah. Apalagi beralih kepada ideology lain yang berseberangan dengan ajaran agama Islam, sebab agama Islam sudah menjadi darah daging dari nenek moyang mereka yaitu mbah Bangil. Kemudian ada lagi yang mengartikan nama bangil dari bahasa madura yaitu bengel yang artinya berani, maksudnya adalah berani berhadapan dengan siapapun yang sengaja merusak ajaran agama Islam sehingga apabila muncul seorang ulama Bangil yang berani menjawab persoalan umat dan agama Islam yang dibenturkan dengan iseologi yang sengaja merusak ajaran agama Islam, maka ulama tersebut merepresentasikan sebagai mbah bangil yaitu disebut sebagai mbah ngilmu karena beliau adala seorang Ulama, kemudian disebut sebagai mbah mbahe angel karena beliau mempertahankan keyakinan atas kebenaran. Adapun beliau disebut sebagai orang bengel (berani) karena tindakan dan ucapannya berani dan tegas menghadapi siapapun juga berani menanggung resikonya. Fenomena di atas mencerminkan potret kehidupan dari seorang mbah bangil.

 

 

BANGIL BERASAL DARI ISTILAH MBAH NGELMU

 

            Menurut pendapat dari kalangan kaum santri warga asli kota bangil mengatakan bahwa bangil berasal dari dua suku kata jawa yaitu mbah dan ngelmu  kemudian di sederhanakan menjadi Bangil artinya sejak di temukan sejara kota Bangil maka semenjak itu pula adanya ilmu agama islam di kota tersebut indikasinya tidak d temukannya sejara peninggalan agama Hindu dan Budah di Bangil. Hal itu dikaitkan dengan adanya mbah bangil di desa Pladhon Kalirejo.

            Beliau adalah seorang leluhur para ulama yang pertama babat alas untuk cikal bakal adanya kota Bangil. Berkat pejuangan mbah Bangil  maka bayak diantara kaum muslimin berbagai suku bangsa berdatangan ke kota Bangil salah satu faktornya adalah ingin mendekatkan diri kepada ulama utuk mengaji ilmu agama islam sehinggah lahirlah generasi ke generasi sampai kepada Habib Abdurahman bin Umar Basyaiban, suami dari Hababah Khodijah Binti Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) yang terkenal sebagei sebutan makam Mbah Ratu Ayu Ibu di Swadesi Kersikan Bangil Salah satu putra beliau diantaranya yang bernama Sayid Sulaiman Mojoagung.yang terkenal sebage ulama yang pertama kali babat alas sebagai cikal bakal berdirinya pondok pesantren Sidogiri yaitu pondok pesanteren salaf ahlussunah wal jama’ah yang pertama kali ada d jawa timur  bahkan paling tua keberadaannya di Indonesia.

            Demikian pula dengan mbah Lowoijo di dasa Diwet Pogar Bangil yang bernama asli mbah Jalaludin. Yakni seorang ulama salaf kota bangil yang bayak menurunkan nasab para kyai warga asli kota bangil. Salah satu nasab ilmu mbah Jalaludin sampai ke Pondok Pesantren Pecangaan, yakni pondok pesantren salaf ahlussunah wal jama’ah yang pertama kali ada d kota bangil bahkan di Indonesia sehingah para kiyai alumni kedua pondok pesantren salaf tersebut menyebut leluhur pendiri pondok pesantren dengan sebutan mbah ngelmu yang kemudian istilah  menjadi BANGIL.

            Kemudian sejak munculnya pondaok pesanteren salaf ahlussunah wal jama’ah yang tumbuh berkembang sampei sekarang berada di setiap desa-desa yang ada  di wilaya kota Bangil antara lain:

 

1.      PONPES Pencangaan Gempeng Bangil

2.      PONPES Darul Ulum gondang bendomungal Bangil

3.      PONPES Riyadul Ulum kidul dalem Bangil

4.      PONPES Tanwirul Hijah Gempeng Bangil

5.      PONPES Putri Salafiyah Kauman Bangil

6.      PONPES Datuk Kalampayan Kauman Bangil

7.      PONPES  Putri Salafiyah Diwet Pogar Bangil

8.      PONPES Nurul Dholam Kidul Dalem Bangil

9.      PONPES DALWAH Raci Bangil

10.  PONPES Darul Ihya’liulumudhin Bendomungal Bangil

11.  PONPES Nurul Iman Kidul Dalem Bangil

12.  PONPES Putri Salafiyah Al-Azhar Sidowayah Bangil

13.  PONPES Dzunurain Kalikunting Bangil

14.  PONPES Nurul Madina Kalirejo Bangil

15.  PONPES Darul Tauhid Gempeng Bangil. DLL.

 

Maka kota Bangil lebih terkenal sebagai kota “SANTRI AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH”

 

PERANAN ULAMA DALAM MENATA KOTA BANGIL

 

            Habib Abdullah bin Ali al Haddad yang dikenal dengan makam mbah Sangeng Bendomungal Bangil. Beliau adalah seorang auliya’ yang mempopulerkan rotib al Haddad dan wirdulatif kepada masyarakat Bangil sehingga amaliyah tersebut sampai sekarang masih dilazimi oleh para santri Kota Bangil demikian pula dengan Al Habib Al Quthb Abu Bakar bin Muhammad assegaf yang memerintahkan kepada Habib Abu Bakar bin Husin assegaf untuk melazimi pembacaan Kitab Ikhya’ Ulumiddin yang dikenal dengan istilah Rokhah. Pembacaan itu sampai sekarang masih dilazimi oleh anak dan cucu beliau yang bernama Habib Husin bin Abu Bakar Assegaf dan Habib Ahmad bin Husein Assegaf di setiap hari, dan setiap Kamis untuk umum.

            Ditambah lagi pembacaan kitab Al Hikam setiap hari Jum’at sore di rumah beliau, Bendomungal Bangil. Dari tempat tersebut melahirkan ulama-ulama tasawuf yang menjaga sunnah-sunnah Nabi SAW di era kini. Demikian pula dengan Habib Husein bin Abu Bakar Assegaf dengan Habib Abdullah bin Sholeh yang melazimkan pembacaan kitab maulud Habsyi Simthut Durror. Setiap jum’at pagi di rumah beliau, Bendumungal Bangil hingga kini masih dilazimi oleh putra beliau yang bernama Habib Umar bin Abdullah Assegaf. yang sekarang dikenal dengan Majelis Maulid Watta’lim Roudlotussalaf. Dari tempat itulah bermunculan para muhibbin (pecinta) Nabi Besar SAW beserta keluarga dan sahabatnya.

Kemudian Habib Ja’far bin Syaikhon Assegaf telah melazimkan pembacaan kitab Burdah di rumah putra beliau yang bernama Habib Sechan bin Ja’far Assegaf hingga sekarang pembacaan tersebut masih dilazimi oleh Habib Musthofa bin Sechan Assegaf setiap hari Rabu malam kamis ba’dal Maghrib. Tempat tersebut sebagai penyembuh / obat sakit hati dan penawar rindu kepada Nabi SAW. Oleh karena itu sungguh pantas apabila tempat-tempat tersebut kita datangi dan ikut dalam majelisnya karena majelis tersebut adalah bahtera Nabi SAW yang dinahkodai oleh Ulama’ kota Bangil.

 

Sumber : Buletin AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH BANGIL

 

Berita "Berita Terkini" Lainnya